Kerabat mengelilingi jenazah Delfiana Azi, Kepal SDI Ndora, yang meninggal RSUD Ende setelah ditusuk orangtua siswa, Selasa 8 Juni 2021. (Youtube/Kompas TV)

MDX-NEWS.ONLINE, MBAY – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Nagekeo meminta aparat penegak hukum menghukum penikam Kepala SDI Ndora, Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro.

Permintaan itu tertuang dalam salinan pernyataan sikap PGRI Nagekeo atas meninggalnya Kepala SDI Ndora, Delfina Azi.

“Memohon kepada aparat penegak hukum untuk memproses tuntas tindakan pidana pembunuhan terhadap guru Azi Delfina sesuai ketentuan hukum yang berlaku, hukuman seumur hidup dan atau hukuman mati,” tegas Ketua PGRI Ngada, Winibaldus Soba, dalam salinan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat siang.

PGRI juga mengutuk keras perbuatan pelaku pembunuhan terhadap Kepala SDI Ndora, Delfina Azi.

Pihaknya memohon negara hadir melalui Pemerintah Nagekeo, DPRD, aparat penegak hukum, tokoh mayarakat, tokoh agama, dan tokoh adat untuk memberikan perlindungan terhadap keselamatan para guru dan tenaga kependidikan.

Hal itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap almarhum, Azi Delfina. PGRI Kabupaten Nagekeo menyatakan turut berdukacita yang mendalam atas kematian kepala sekolah tersebut. PGRI memohon pada pemerintah daerah memberikan jaminan rasa aman dan nyaman bagi komunitas SDI Ndora.

Bupati Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Johanes Don Bosco Do meminta maaf kepada keluarga Delfina Azi (59) Kepala SDI Ndora, yang ditikam hingga tewas oleh orangtua murid di SDI Ndora, Selasa (8/6/2021).

Selain itu, Bupati Johanes Don Bosco Do juga meminta maaf kepada seluruh masyarakat Nagekeo dan masyarakat Indonesia umumnya.

“Saya sebagai Bupati selain menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kematian korban, juga meminta maaf kepada keluarga dan seluruh masyarakat, karena kami sebagai pemerintah daerah tidak bisa memberikan perlindungan yang maksimal kepada korban,” kata Bupati Johanes Don Bosco Do kepada Beritasatu.com, Rabu 9 Juni 2021.

Bupati Don Bosco mengaku permintaan maaf itu telah ia sampaikan juga saat jenazah korban tiba di kampungnya di Desa Gero Dhere, Kecamatan Boawae.

“Di sana tadi selain menyampaikan rasa duka, saya telah menyampaikan permintaan maaaf karena tidak bisa memberikan perlindungan yang maksimal,” kata Bupati alumnus Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta ini.

Bupati Don Bosco mengatakan, kematian korban dijadikannya momentum untuk memperbaiki tata kelola pendidikan di Nagekeo terutama terkait dengan kewajiban membayar Uang Komite Sekolah. “Saya mempertanyakan pentingnya Uang Komite Sekolah ini,” kata dia.

Ia mengatakan, kalau ada kewajiban Uang Komite Sekolah mengapa anak didik harus menjadi korban. “Anak didik tidak boleh menjadi korban. Kalau ada orangtua yang tidak membayar Uang Komite Sekolah, bukan anak didik yang jadi korban. Anggota Komite harus cari cara agar orangtua membayar, bukan anak didik yang jadi korban,” kata dia.

Selanjutnya, Bupati Don Bosco menegaskan, apa pun alasan terkait Uang Komite Sekolah yang pasti perbuatan pelaku menikam korban sudah tidak bisa dimaafkan secara hukum. “Pelaku harus dihukum seberat-beratnya. Bukan hanya agar pelaku bertobat tetapi agar siapa pun berpikir seribu kali melakukan kejahatan yang sama,” kata dia.

Bupati Don Bosco mengatakan, Delfina Azi ditikam pelaku berinisial DD, bermula ketika pihak sekolah memulangkan beberapa siswa karena belum membayar Uang Komite Sekolah.

Tindakan memulangkan siswa yang belum melunasi Uang Komite Sekolah itu, dilakukan pihak SDI Ndora bertepatan dengan momen pelaksanaan ujian sekolah tahun ajaran 2020/2021. Salah satu orangtua murid berinisial DD, melakukan protes dengan mendatangi sekolah tersebut.

Orangtua murid berinisial DD menemui korban di ruang kerja kepala sekolah pada hari nahas itu. DD sepertinya membawa sebilah pisau sangkur yang disembunyikan di dalam bajunya.
Menurut keterangan beberapa saksi, DD dan kepala sekolah sempat terlibat adu mulut. Namun tidak menunjukan tanda-tanda bahwa DD akan berbuat jahat. Setelah keduanya tenang, barulah pelaku tiba-tiba menusuk korban ke arah perut bagian kanan.

Nyawa korban tidak bisa tertolong meski sempat ditangani petugas medis di Puskesmas Nangaroro dan RSUD Ende.
Kasus penikaman Kepala SDI Ndora saat ini juga telah ditangani pihak Polsek Nangaroro sesuai SPO kepolisian.

Kapolsek Nangaroro Iptu Sudirman mengatakan, polisi telah meminta keterangan dari beberapa saksi termasuk mengamankan pelaku dan barang bukti.

Usai melakukan doa bersama di halaman SDI Ndora, Rabu (9/6/2021), Bupati Don Bosco bersama warga turut ikut mengantar jenazah korban ke rumah duka.

Saat ini, jenazah korban telah dibawa ke rumah duka di Desa Gero Dhere, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo untuk dimakamkan Kamis (10/6/2021). Sebelum menuju rumah duka, jenazah sempat dibawa ke SDI Ndora untuk didoakan. Almarhumah meninggalkan seorang suami dan empat orang anak.

Uang Komite Jadi Beban

Bupati Don Bosco menegaskan, pemerintah sudah mengratiskan pendidikan sampai sembilan tahun (SD, SMP dan SMA). Namun, kata dia, sampai saat ini baik di sekolah negeri maupun di sekolah swasta ada program Uang Komite Sekolah.

Uang Komite ini, kata dia, fungsinya untuk mempercantik halaman sekolah, ruangan sekolah, bayar gaji guru Komite, dll.

Ia mengatakan, di banyak tempat terjadi konflik antara kepala sekolah dengan Ketua Komte Sekolah hanya gara-gara Uang Komite. “Biasanya terjadi konflik karena ada pihak yang tidak transparan,” kata dia.

Menurut Bupati Don Bosco, dengan kejadian kematian Ibu Delfina Azi (59) Kepala SDI Ndora, pihaknya akan mengevaluasi mengenai program Uang Komite Sekolah ini. “Saat ini saya mempertanyakan uang ini. Saya akan perbaiki tata kelolanya,” kata dia.

Bupati menambahkan, terkait kematian korban, keadaan Nagekeo terutama di lingkungan sekolah yang korban pimpin aman dan kondusif karena polisi dan TNI serta tokoh masyarakat dan pihak terkait sama-sama memberikan pengertian kepada keluarga korban dan masyarakat umumnya.

“Yang pasti pelaku sudah ditahan, dan pasti polisi profesional menegakkan hukum. Jadi semua masyarakat harus percaya kepada hukum,” kata Bupati Don Bosco.

Sumber: kompas.com/beritasatu.com

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *