Oleh: Greg Teguh Santoso

MDX-NEWS.ONLINE – Kian maraknya kecenderungan kita bersibuk-ria dengan gawai tanpa hirau lagi dengan kondisi sekitar bahkan menjurus pada pola anti sosial, ternyata kian masif, khususnya di masa pandemi Covid-19 yang telah menginjak tahun keduanya menerpa seantero bumi.

Banyak penelitian menunjukkan meruyaknya post traumatic stress disorder (PTSD) yang menjangkiti masyarakat selama mengarungi badai pandemi.

Berasyik-masyuk dengan gawai di tengah kian terbatasnya gerak kita secara fisik bercengkerama dengan sesama menjadikan fenomena phubbing juga mengemuka.

Dalam konteks ini ada baiknya kita cermati riset yang dilakukan para ilmuwan dari Jeman dan Amerika Serikat dan dipublikasikan melalui Frontiers in Psychology Desember 2020 lalu.

Penelitian itu menandaskan, “…Our findings indicate that stress was linked to more hedonic and less eudaimonic media use, as well as more avoidant and escapist media-based coping. Anxiety, on the other hand, was linked to more media use in general, specifically more eudaimonic media use and a full range of media-based coping strategies… (AL, Eden et.al.).”

Selalu ada elemen-elemen positif dalam suatu fenomena, pun demikian dengan aspek negatifnya.

Penelitian yang melibatkan sekitar 450 mahasiswa dari dua perguruan tinggi besar di Amerika Serikat sebagai responden menemukan bahwa berkegiatan secara online menggunakan gawai kian masif, kian menyita banyak waktu dan energi dan berkecenderungan mengalihkan perhatian kita dari nuansa-nuansa lain kehidupan.

Kendati, tentu saja, tak dimungkiri berbagai impak positif yang bisa ditangguk darinya.

Pelarian digital

Problem nan dilematis makin meruncing tatkala penggunaan gawai nan masif tersebut mulai menjauh dari tujuan awalnya dan kian mengarah pada pelarian (escapism) dari kejenuhan realitas keseharian yang mesti dihadapi: tak boleh ke sekolah atau kampus, tak bisa berinteraksi secara massal, tak boleh mudik berjumpa handai tolan, dan sebagainya.

Makin runyam kala peluang ini dimanfaatkan oleh para pembuat aneka konten di berbagai kanal media sosial yang menawarkan aneka gemebyar nuansa hiburan tanpa hirau nilai muatan yang diunggahnya.

Inilah yang dikenal sebagai pelarian digital (digital escapism) dalam ranah ilmu psikologi.

Banyak contoh bisa kita temukan secara gamblang dalam keseharian hidup kita, baik sebagai individu maupun anggota kelompok atau masyarakat.

Hal ini ditangkap sebagai peluang manis oleh sebagian penggiat dunia digital guna meraup rupiah (atau dolar AS) guna kian menggelembungkan kekayaannya untuk terus mencapai taraf “sultan”.

Sebagai contoh kasus kita bisa berkaca dari konten Aurel keguguran hingga tulisan ini dibuat, telah mendulang lebih 10 juta viewers dan menjadi trending Youtube nomor dua.

Berikutnya, momen wafat dan pemakaman ayahanda Ria Yunita alias Ria Ricis yang ditayangkannya telah merengkuh 2,6 juta viewers dan 281 ribu likes.

Belum lagi berbagai konten “aneh bin ajaib” yang banyak kita temukan mulai dari emak-emak yang berjoget di jalan tol, ulah sopir truk ugal-ugalan, memakai help dari penanak nasi, dan sebagainya. Semuanya bermuara pada tujuan untuk terkenal, agar beroleh banyak follower, dan seterusnya.

Isu-isu terkait apapun bisa menjadi konten dan meraih banyak penonton yang pada gilirannya menggemukkan pundi-pundi rupiah para youtuber-nya adalah fenomena yang kian jamak saat ini.

Bangsa ini seolah tak henti berputar dari satu ironi ke ironi lainnya, melompat berjumpalitan dari satu absurditas ke absurditas lainnya tanpa jeda, tanpa tanda jemu, apalagi muak, seolah ironi dan absurditas telah jadi jamak.

Isu digoreng dan dimasak, lalu dipanaskan oleh berbagai tanggapan, diberi ajang dan panggung oleh media mainstream maupun digital.

Hiruk-pikuk kurang berkualitas inikah yang terkadang memberatkan langkah kita berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain. Belum lagi bila kita masukkan unsur politis di dalamnya, makin komplekslah persoalan.

Mental instan

Adapun dari sudut pandang para penggiat media sosial hal ini tentu sah-sah saja, makin kreatif (baca: makin aneh, nyeleneh) akan makin digemari dan beroleh likes serta subscribes makin banyak, gilirannya hal itu akan dikuantifikasi, dimonetisasi (monetized) yang mengalir ke rekening.

Ironisnya, telanjur ada adagium umum nan salah kaprah bahwa konten yang positif itu garing alias boring dan tidak menghibur serta tak memuaskan dahaga eskapisme digital yang kian menggelora di tengah pandemi Covid-19 ini.

Pada titik inilah, semua terpulang pada kita sebagai subyek yang sekaligus obyek (pasar sasaran) dari berbagai konten dan aktivitas bermedia sosial tersebut.

Ya, kitalah subyek yang punya kendali atas diri untuk memilah yang positif dan negati serta mencerna dan mengunyah segenap tawaran-tawaran tersebut secara cerdas dan mandiri.

Dibutuhkan kualitas manusia matahari yang mencerahkan, bukan membuat kusut dan menghadirkan gelap mendung kehidupan. Kita sebagai ciptaan Sang Khalik yang tertinggi derajatnya mesti menimbang segenap konsekuensi logis alias akibat yang mungkin timbul sebagai buah dari dinamika proses yang kita pilih.

Tak ada kata instan, tak ada mental nerabas mau enaknya doang. Tepat pada titik inilah terjadi banyak ironi di negeri ini!

Misalnya, kearifan lama “berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian” tak lagi dikenal. Yang justru mengemuka adalah “secepat mungkin mencapai ke hulu untuk bersenang-senang”, bahkan mungkin tanpa menghiraukan bagaimana pun caranya.

Kegigihan dan disiplin yang membangun tatanan masyarakat moderen bentrok dengan hasrat mencari kesenangan dan kecenderungan instant success atau pemaknaan ‘sukses’ secara sempit.

Sukses tidak lagi dilihat sebagai buah yang hanya layak dipetik dari suatu proses panjang pengolahan diri, tetapi lebih dimaknai melalui status dan simbol-simbol sosial yang lebih bernuansa materialisme.

Parameter-parameter material-ekonomis yang kadang berbau hedonis dijadikan acuan utama. Orang lebih sering menafikan proses di balik suatu sukses dan lebih terpukau oleh pernik-pernih yang melambangkan sukses itu betapapun semunya.

Kita silau menyaksikan bagaimana artis A bergelimang kemewahan di usia muda dengan istri dan anak yang manis. Kita tergerak untuk bisa mencapai hal itu sesegera mungkin. Kita lupa bahwa Sang Artis telah menekuri jalan panjang sejak remaja hingga bisa berada dalam posisi saat ini.

Maka tak heran bila para “perampok” pun saat ini berdasi, berpakaian necis, dan bermobil mewah dalam menjalankan operasinya merampok uang rakyat. Sebagai untaian logis dari fenomena di atas, ketabahan masyarakat dalam menunda kepuasan hidup telah sirna.

Sistem kredit membuat orang jadi bermental menerabas. Dengan beragam jaring kemudahan yang ditebarkan, masyarakat dijebak dalam rawa-rawa konsumerisme. Pengendalian diri -yang merupakan salah satu aspek penting dari asketisme- telah dilecehkan.

Mengumbar hedonisme

Bahkan, dalam kehidupan masyarakat Barat, telah terjadi transformasi yang menyolok di mana asketisme (puritanisme) bergeser ke apa yang disebut bazaar psichedelic yakni pola hidup sehari-hari yang diwarnai dengan pengumbaran tanpa kendali berbagai unsur hedonisme.

Gerakan #PostingYang baik adalah satu contoh counter attack atas beragam mudarat bermedia sosial sebagaimana dipaparkan di atas, selain kita perlu mulai membiasakan diri untuk bermedia sosial secara santun dan bijak.

Penempatan masyarakat Indonesia sebagai salah satu yang terburuk dalam survei Microsoft dalam Digital Civility Index bulan Februari 2021 lalu adalah cambuk untuk berbenah bukan saling menyalahkan atau mencari kambing hitam.

Pandemi telah memaksa kita melompati proses transformasi digital, perlu sinergi berbagai pihak untuk terus meningkatkan kesiapan kita tak hanya secara infrastruktur teknis tetapi juga keadaban dan kesiapan manusianya selaku subyek.*

Greg Teguh Santoso adalah Versatilist dan Auditor Sistem Manajemen.

Sumber: kompas.com

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *