Ilustrasi tari Bidu. (travel.tribunnews.com/instagram/delfridakarlani)

MDX-NEWS.ONLINE – Tari Bidu berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya daerah Belu.

Tari Bidu diwariskan secara turun-temurun sebagai tarian untuk mencari jodoh oleh masyarakat.

Tarian ini memang ditampilkan oleh pemuda dan pemudi masyarakat setempat.

Dalam buku Kebudayaan Suku-Suku Bangsa di Nusa Tenggara Timur (1976) oleh Hidayat, dalam tradisi Belu, ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh pemuda dan pemudi sebelum pernikahan.

Para pemuda dan pemudi harus melakukan Hameno Bidu, yaitu perjanjian dan perencanaan. Kemudian pemuda dan pemudi saling bertemu di tempat tari Bidu akan dilaksanakan.

Dalam tarian tersebut para pemuda menari satu persatu sembari memilih wanita yang disukainya.

Setelah mereka sama-sama setuju kemudian dilanjutkan dengan proses Hanimak.

Hanimak adalah proses pengenalan antara pemuda dan pemudi atas izin orangtua.

Setelah ada kecocokan, kemudian masuk ke proses Binor, saling tukar dan menyimpan barang masing-masing seperti kain, pakaian, dan lainnya.

Dalam peminangan, biasanya membawa barang yang disebut Mama Lulik yang dilanjutkan dengan Mama Tebes. Mama Tebes artinya merencanakan pernikahan.

Gerak tari Bidu

Tari Bidu dibawakan oleh penari perempuan dan pria dengan jumlah delapan atau lebih penari perempuan serta 1-2 penari pria.

Pentas tari diawali penari perempuan yang menyuguhkan sirih dan pinang kepada beberapa penonton atau tamu terhormat yang datang.

Gerakan tangan penari perempuan sangat lembut dan berjalan di tempat. Sedangkan penari pria mengelilingi penari perempuan dengan gerakan yang khas.

Gerakan penari perempuan menggambarkan keanggunan seorang putri dan untuk penari pria mencerminkan seseorang yang siap untuk memilih calon pendampingnya.

Busana dan alat musik

Berdasarkan buku Kemdikbud Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Timur (1981), penari Bidu menggunakan pakaian adat lengkap dengan aksesorinya.

Penari perempuan menggunakan kain sarung panjang dari dada sampai kaki.

Selain itu juga menggunakan ikat kepala, kalung, ikat pinggang, dan gelang.

Untuk penari pria menggunakan baju lengan panjang dan kain selampang pada bagian atas, sarung untuk bawahan, serta ikat kepala khas Belu.

Alat musik pengiring tari Bidu, yaitu Biola, Sasando, dan Gitar dengan irama bertempo cepat. Iringan musik tersebut dipadukan dengan nyanyian lagu adat khas Belu.

Tari Gareng Lameng

Provinsi Nusa Tenggara Timur juga memiliki tarian tradisional bernama Tari Gareng Lameng. Tarian ini melambangkan rasa syukur dan panjatan doa.

Dalam buku Ensiklopedia Tari-Tari Nusantara (2014) oleh Rizky Utami, tari Gareng Lameng biasanya dipentaskan pada acara-acara di NTT, seperti khitanan.

Ilustrasi tari Gareng Lameng (Buku PANTUN PELANGI BUDAYA NUSANTARA (2019))

Tarian ini sebagai ungkapan rasa syukur serta mendoakan kesehatan dan kesuksesan anak yang sedang melakukan khitan.

Jika diperhatikan, tari Gareng Lameng sangat terasa sakralnya. Hal ini karena masyarakat setempat sangat menjunjung tinggi nilai Ketuhanan.

Alat musik pengiring Tari Lameng diiringi dengan alat musik Gong Waning.

Gong Waning menjadi alat musik tradisional NTT dari suku Sikka. Gong Waning merupakan gabungan dari gendang, gong, dan saur.

Cara memainkan alat musik ini tentunya ditabuh, sama seperti gong dalam gamelan Jawa.

Alat musik ini tidak hanya digunakan untuk mengiringi tari Gareng Lameng saja, melainkan juga seni tari maupun pertunjukan adat lainnya.

Kabarnya, Gong Waning sudah ada sejak perdagangan China, Jawa, dan Bugis. Alat musik ini menjadi salah satu barang yang diturkarkan dengan hasil bumi atau barang lokal di NTT pada masanya.

Aksesoris tari Gareng Lameng

Dilansir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tari Gareng Lameng menggunakan busana atau properti yang khas, di antaraya:

  • Lesu

Digunakan oleh penari perempuan sebagai penunjang gerakan tari. Lesu merupakan kain yang bentuknya hampir sama dengan sapu tangan.

  • Reng

Reng adalah gelamg yang digunakan penari pria yang menimbulkan suara klinting saat digerakkan atau dihentakkan. Dengan menggunakan Reng, sebagai penambah iringan tari Gareng Lameng selain alat musik Gong Waning.

  • Rote

Rote adalah pakaian tradisional Nusa Tenggara Timur yang digunakan untuk tari Gareng Lameng.

Rote yang digunakan biasanya berwarna kuning dan merah, sedangkan untuk bawahan menggunakan sarung yang senada.

Aksesoris terakhir yang digunakan penari Gareng Lameng adalah ikun.*

Ikun seperti keris yang digunakan untuk penari pria. Biasanya berwarna coklat tua atau hitam.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tari Bidu, Media Mencari Jodoh di NTT”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/03/08/150000569/tari-bidu-media-mencari-jodoh-di-ntt?page=all#page2.
Penulis : Serafica Gischa
Editor : Serafica Gischa



Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Tari Gareng Lameng, Ungkapan Syukur Masyarakat NTT”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2021/03/08/130000969/tari-gareng-lameng-ungkapan-syukur-masyarakat-ntt.
Penulis : Serafica Gischa
Editor : Serafica Gischa



By Admin

2 thoughts on “Mau Dapat Jodoh Secara Romantis, Ikut Tari Bidu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *